Kamis, 03 April 2014

SAYA DAN DINDING

MEMBANGUN JEMBATAN HATI

Oleh : Eldi Harpenjoni 
                 
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan beberapa orang teman dalam satu perjalanan saya di sebuah kota kecil di pinggiran Kalimantan Barat, topik yang kami obrolkan  bertema "bagaimana menjadi seorang leader yang baik"

Didepan saya waktu itu hadir, manager cluster sebuah perusahaan penyedia layanan komunikasi, orangnya sangat pendiam, gerakannya kaku, bahkan untuk menatap orang di sekitarnya saja sepertinya dia kesulitan, 
diawal obrolan kami, jari-jarinya selalu menari di atas tuts handpone  pandangannya tak pernah beranjak lebih dari 10 detik dari monitor handpone, kesannya sibuk, atau bahkan sombong !!.

Selain Manager tersebut hadir juga staff dan supervisor yang terlibat aktif dalam perbincangan, bagaimana megembangkan diri menjadi seorang leader.

Persoalan utama mereka, adalah tidak munculnya spirit kebersamaan, kecendrungan mencari kambing hitam jika target tak tercapai sering kali terjadi bahkan kadang-kadang friksi ini memanas sehingga membuat satu bagian dengan bagian lain tidak lagi saling menyapa...."alah mak kiamat untuk tim ini"

Sepanjang obrolan kami mata saya sekali-kali, mengarah kepada sang manager, tangannya masih tetap sibuk dengan Handpone, mungkin dia merasa sedang berada di tempat lain, kadang dia juga tersenyum tapi saya tidak bisa menebak apakah dia tersenyum mendengar orolan kami, atau dia sedang tersenyum pada sesuatu yang ada di layar  handponenya...

setelah mendapatkan bagaimana gambaran team work teman-teman saya ini, saya jadi teringat dongeng tentang seorang raja yang hidup dalam istana yang megah !

Tersebutlah raja karem yang perkasa setelah memenangkan berbagai pertempuran, selama bertahun-tahun kerajaannya telah menjelma menjadi sebuah kerajaan besar, kerajaan - kerajaan kecil taklukannya begitu takut padanya. "Raja karem merupakan seorang yang sangat berkuasa dan berwibawa"

Akhirnya karena merasa sudah tak ada lagi tantangan, Sang Raja akhirnya hidup dalam istana megahnya, dia merasa  sudah sukses menggapai semua yang diinginkan, dinding-dinding istana yang begitu tebal memisahkan raja dari rakyatnya..tak seorangpun yang berani  mengganggu ketenangan sang Raja.

Setiap kali Perdana mentri   ataupun panglima ingin menghadap raja tak pernah punya waktu, karena dia sibuk dengan dunianya sendiri, menikmati kesuksesan , memanjakan diri pada kemewahan , dan menyelimuti dirinya dalam kenangan kesuksesan.

Suau hari dinding-dinding istana bergetar, suara dentuman membahana, langit-langit kamar sang raja yang demikian indah perlahan-lahan berguguran..sang raja terbangun dari tidurnya yang panjang   


Hidup Begitu Menyenangkan

HIDUP BEGITU MENYENANGKAN


Awal Februari lalu saya, kembali Pulang kampung dalam rangka memenuhi undangan teman-teman Alumni, Bukittinggi masih menjadi kota yang cantik, walaupun kesemrautan di beberapa titik mulai mengganggu, Walikotanya Bilang, mau di apakan pun Bukiittinggi ini, akan sulit di tata lebih baik, karena keterbatasan lahan, Diapit Oleh Gunung Marapi, dan Lembah ngarai Sianok.

Lain kali saya ingin menulis khusus tentang Bukittinggi.

Saya berkeliling ke kampung-kampung yang ada di kaki gunung marapi menyapa sahabat-sahabat masa lalu, yang kini telah menjadi tokoh masyarakat, Guru, Petani, Wira Usahawan, Politisi, Pejabat Pemerintah...luar biasa.. Apapun Profesinya mereka telah menjadi pahlawan bagi keluarganya.

Suatu Pagi Sambil Menghirup Kopi kawa..yang luar biasa dan setelah menghabiskan sipiring Katupek gulai Paku..saya menatap satu sosok tubuh ringkih yang sedang duduk..merenung menatap kehamparan sawah yang menghijau sampai ke kaki langit.

Usianya sekitar 3/4 abad..gurat-gurat ketuaan dan garis kehidupan yang panjang jelas terlukis di wajahnya.

"Nama saya Malin" begitu beliau memulai kisahnya"

dari dulu sampai sekarang saya petani, jika pagi hari sambil menuntun kerbau saya turun kesawah..siang hari pergi mencari rumput, untuk dijual dan di makan kerbau peliharaan sendiri.

Anak saya 3 laki-laki dan 2 perempuan semuanya ada di Rantau...mereka kini telah bekeluarga dan menetap disana. Istri saya lima tahun yang lalu telah meninggal.

Kini saya hidup bersama keponakan perempuan yang menetap di kampung bersama keluarganya.

dulu waktu anak-anak masih sekolah, saya bekerja ya seperti ini, kalau musim kemarau saya mesti turun lebih pagi bahkan tengah malam..untuk menjemput air kehulu agar sawah saya bisa di airi, kadang-kadang mesti berjaga semalaman agar orang lain tidak membelokkan arah air yang menjadi giliran sawah saya untuk di airi.

kalau anak-anak minta kiriman untuk biaya sekolah, pas lagi Musim Panen nggak ada masalah tapi kalau Pas lagi kemarau saya mesti bekerja menyabit rumput, atau ikut membantu orang menggarap ladang atau apa saja agar uangnya cukup untuk biaya anak-anak.

Kadang-kadang beras di rumah sudah habis, saya dan Istri hanya makan Ubi Kayu yang direbus, trus dikasi parutan kelapa dan sedikt gula, itulah menu kami... yang penting anak bisa sekolah dan mereka tidak ketinggalan dari teman-teman sebayanya.

Kini kelima anak saya sudah tamat sekolah, ada yang jadi Guru, Jadi pegawai negeri, Pengusaha, dan pengacara.

Kini saya hidup sendiri..saya tak mau hidup membebani anak..biarlah mereka menikmati betapa indahnya hidup ini tanpa di ganggu dengan fikiran mesti balas jasa ke Orang Tua, karena seperti saya, mereka sekarang punya kewajiban pada anak-anaknya.

Orang mungkin melihat kasihan Pada Pak malin..setelah bekerja keras bertahun-tahun..menyekolahkan anak, ketika anak sukses si bapak tetap saja di kampung Jadi petani, terbakar panas terik matahari, Mesti begadang dimusim kemarau, menyabit rumput untuk ternak.

Pak Malin sendiri hidup Bahagia..memiliki begitu banyak harta, Kecintaan dan kebanggaan pada apapun yang dikerjakannya...tak pernah di ukur seberapa banyak yang akan diperolehnya kembali sebagai hasil jerih payahnya, Baginya hidup adalah bekerja...tak mesti mendapat banyak..tetapi harus bermanfaat.....

"hidup ini terlalu indah untuk diisi dengan berbagai tuntuntan, karena dengan tuntutan kita hanya akan menjadi orang yang terpaksa dan di paksa untuk memenuhi semua keinginan, bagi saya bekerja itu spirit hidup..dengan bekerja saya merasa hidup dan telah menghargai kehidupan yang di berikan tuhan...kalau saya sudah bekerja sungguh- sungguh, lalu tuhan hanya memberi sedikit...ya Tidak apa-apa...Saya tetap bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk menikmati hidup, di Usia saya yang sudah tua ini, saya tetap sehat sehingga bisa kerja...untuk siapa saya bekerja...bukan untuk orang lain..tapi untuk diri saya sendiri..hasilnya biarlah untuk anak dan cucu...tapi kerja itulah kenikmatan saya.

Begitulah Pak Malin..sosok tua ringkih.yang terkesan lemah ternyata beliau orang yangg mampu menikmati kehindahan hidup dengan caranya tak menyesali apapun, tak menuntut apapun...

Hidup ini begitu menyenangkan.

"Salam Sukses"